Rabu, 22 Januari 2014

OUTLINE PENULISAN ILMIAH


BAB I
PENDAHULUAN


1.1     Latar  Belakang

Dewasa ini kemajuan teknologi terasa semakin pesat, terutama pada bidang teknologi informasi.Informasi merupakan salah satu bagian untuk dapat mendukung kemajuan suatu perusahaan maupun instansi dengan tujuan memperkecil pengeluaran biaya dan mempersingkat waktu  kerja.
          Atas dasar tujuan tersebut,perlu dilakukan dukungan penuh dengan keberadaan system informasi.
          Dengan demikian untuk bisa menghasilkan suatu informasi yang  berkualitas  yang memenuhi persyaratan suatu informasi seperti akurat,relevan, dan tepat waktu  diperlukan keberadaan system teknologi informasi yang handal.
           Penggunaan teknologi tersebut akan berdampak baik terhadap jalannya roda usaha. Program yang kami buat untuk menyediakan data CD/VCD dan data peminjaman dimana akan dioperasikan pada saat konsumen meminjam sejumlah cd dengan menggunakan Visual Basic.
                   Program ini dibuat untuk mempermudah operator dalam pencatatan sejumlah cd yang ada dan untuk mencatat data konsumen yang meminjam cd tanpa harus dilakukan secara manual.
         




1.2     Ruang Lingkup Permasalahan
Bagaimana  jika konsumen/penyewa ingin meminjam lebih dari 1 cd.

1.3     Tujuan
Tujuan dibuat makalah ini yaitu untuk menyelesaikan tugas  kelompok   mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer.
Selain itu kami berharap dibuatnya makalah ini bukan hanya untuk
Tugas yang diberikan semata, tetapi dapat berguna untuk pembelajaran dan dapat digunakan untuk menambah wawasan bagi orang-orang atau  mahasiswa lainnya yang ingin mengenal lebih lagi tentang pemrograman dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari.

1.4     Manfaat
                      Manfaat dibuatnya makalah ini untuk memberikan informasi pada para pembaca tentang materi-materi yang ada didalamnya beserta program aplikasi yang telah dibuat .













BAB II
PERANCANGAN
2.1.        Kode Film
  Menggunakan sintaks Combo Box.

Private Sub Form_Load()
  Combo1.AddItem "Kode Film”
  End Sub
  Private Sub Combo1_Click()
  Label1.Caption = Combo1.Text
  End Sub
  Menampilkan kode Film misal “A” dan seterusnya.

Asal File
Private Sub Command1_Click()
Label2.Caption = Text1.Text
End Sub

Sewa
Private Sub Command2_Click()
Label3.Caption = Text1.Text
End Sub

Tanggal Pinjam
Private Sub Form_Load()
  Combo2.AddItem "Tgl Pinjam”
  End Sub
  Private Sub Combo2_Click()
  Label2.Caption = Combo2.Text
  End Sub

Tanggal Kembali
Private Sub Form_Load()
  Combo3.AddItem "Tgl Kembali”
  End Sub
  Private Sub Combo3_Click()
  Label2.Caption = Combo3.Text
  End Sub

Lama Pinjam
Private Sub Command3_Click()
Label4.Caption = Text1.Text
End Sub

Denda
Private Sub Command4_Click()
Label5.Caption = Text1.Text
End Sub
Total
Private Sub Command4_Click()
Label5.Caption = Text1.Text
End Sub
Untuk mengeksekusi program
Private Sub Command4_Click()
End
End Sub

Setelah program di running akan keluar sebagai berikut :














BAB IV
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Dengan adanya program peminjaman VCD/DVD  akan mempermudah para pengusaha Rental cd untuk menjalankan bisnisnya tanpa harus menjalakannya secara manual.

3.2  Saran
·        Diharapkan makalah ini berguna dan dapat menjadi sarana pembelajaran oleh pembaca, semoga pembaca menjadi lebih paham mengenai program dan aplikasi lain pendukungnya.
·         Selain memahami program yang ada pada makalah ini,diharapkan pembaca juga bisa memperoleh informasi dari sumber-sumber lain yang membantu dalam mempelajari  bahasa pemrograman dan aplikasinya.

Selasa, 19 November 2013

KALIMAT EFEKTIF


Sebelum menganalisis suatu artikel ada baiknya kita mengetahui tentang kalimat efektif dan tidak efektif. Pengertian kalimat efektif adalah kalimat yang mengungkapkan pikiran atau gagasan yang disampaikan sehingga dapat dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Di bawah ini adalah artikel yang akan saya bahas. Check this out!

Korean Wave, Fenomena Sesaat.
Tren selalu berubah, begitu pula denganKorean Wave yang tengah melanda Indonesia saat ini, akan berlangsung sesaat seiring perkembangan tren selanjutnya. 

Hallyu atau Korean Wave (Gelombang Korea) adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia.
Umumnya Hallyu memicu banyak orang untuk memelajari bahasa dan kebudayaan Korea. 
Tak terkecuali Indonesia dimana kalangan mudanya kini banyak yang sedang dilanda demam K-pop dan drama Korea. 
Fenomena ini mengingatkan kita pada tren-tren sebelumnya yang juga pernah melanda di Indonesia seperti budaya pop China dan Jepang. 
Dan semua budaya pop tersebut, kata Henni Norita dari Lembaga Psikologi Hikari, hanya bersifat sementara karena perkembangan tren datang silih berganti mengikuti perkembangan zaman. 
"Jadi sama seperti tren-tren sebelumnya, fenomena Korean Wave pun hanya berlangsung dalam kurun waktu tertentu," jelasnya kepada Beritasatu.com.
Dan sebagai sebuah fenomena, lanjut Henni, tentu saja memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat Indonesia. 
Misalnya, kata dia, berkurangnya kecintaan terhadap budaya sendiri dan cenderung menurunnya semangat belajar dan produktivitas lantaran waktunya banyak tersita untuk menonton drama Korea, atau menjelajahi dunia maya untuk mencari tahu banyak hal mengenai Korea.  
Jangan Hanya Jadi Follower
Tak hanya itu, gaya hidup sebagian kalangan muda Indonesia pun, lanjut Henni, mulai terpengaruh oleh gaya hidup masyarakat Korea.
Kondisi ini menunjukkan bahwa budaya pop Korea saat ini memang sudah mempunyai penggemar dan memiliki kelasnya tersendiri di Indonesia. 

Tak hanya di kalangan biasa, tapi juga telah merambah sekaligus menginspirasi beberapa artis di tanah air. 
"Namun sebagai sebuah dinamika kehidupan, fenomena ini sebenarnya wajar saja terjadi," jelasnya.
Lantas apa dampak positifnya fenomena tersebut bagi masyarakat kita? Henni berpendapat, fenomena Hallyu dapat memperkaya pengetahuan masyarakat Indonesia akan kebudayaan negara lain.
Sebagai salah satu negara maju di Asia, Korea juga dapat dijadikan teladan karena tetap memegang teguh budayanya meski arus globalisasi sedemikian derasnya. 
Hal ini dapat dilihat dan dirasakan melalui warna musiknya, drama serial atau beberapa filmnya yang menggambarkan tentang seni, budaya dan kehidupan sehari-harinya yang menjadi ciri khas masyarakat Korea.
"Kuatnya karakter dan identitas merekalah yang membuat bangsa tersebut mampu menjaditrendsetter baru dalam dunia musik, seni akting, fashion dan gaya hidupnya," kata Henni. 
Kerja keras mereka yang berhasil menjadi 'kiblat' baru dalam budaya pop itulah yang seharusnya menginspirasi masyarakat Indonesia untuk juga terus bekerja keras, disiplin, kreatif dan memiliki etos kerja yang tinggi. 
"Jadi masyarakat kita nggak hanya jadi follower, tapi juga harus mampu menjadi trendsetter baru bagi negara lain," tambah Henni yang juga pengajar di Hikari Montesorri School ini. 

1.      Hallyu atau Korean Wave (Gelombang Korea) adalah istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya pop Korea secara global di berbagai negara di dunia.
(kalimat tidak efektif).
Hallyu atau Korean Wave (Gelombang Korea) adalah istilah penyebaran budaya Korea secara global di dunia.
(kalimat efektif).

2.      Tak terkecuali Indonesia dimana kalangan mudanya kini banyak yang sedang dilanda demam K-pop dan drama Korea. (kalimat tidak efektif).
Tak terkecuali Indonesia, kini kalangan muda banyak yang sedang dilanda demam Korea. (kalimat efektif).

3.      Fenomena ini mengingatkan kita pada tren-tren sebelumnya yang juga pernah melanda di Indonesia seperti budaya pop China dan Jepang. (kalimat tidak efektif).
Fenomena ini mengingatkan kita pada tren sebelumnya yang pernah melanda di Indonesia seperti budaya pop China dan Jepang. (kalimat efektif).

4.      Dan semua budaya pop tersebut, kata Henni Norita dari Lembaga Psikologi Hikari, hanya bersifat sementara karena perkembangan tren datang silih berganti mengikuti perkembangan zaman. (kalimat tidak efektif).
Henni Norita dari Lembaga Psikologi Hikari beranggapan, budaya pop tersebut hanya bersifat sementara karena perkembangan tren datang silih berganti mengikuti perkembangan zaman. (kalimat efektif).

5.      Dan sebagai sebuah fenomena, lanjut Henni, tentu saja memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat Indonesia. (kalimat tidak efektif).
“Dan sebagai sebuah fenomena, tentu saja memberikan dampak positif dan negatif bagi masyarakat Indonesia.” lanjut Henni (kalimat efektif).
6.      Misalnya, kata dia, berkurangnya kecintaan terhadap budaya sendiri dan cenderung menurunnya semangat belajar dan produktivitas lantaran waktunya banyak tersita untuk menonton drama Korea, atau menjelajahi dunia maya untuk mencari tahu banyak hal mengenai Korea.  (kalimat tidak efektif).
“Misalnya, berkurangnya kecintaan terhadap budaya sendiri dan cenderung menurunnya semangat belajar dan produktivitas lantaran waktunya banyak tersita untuk menonton drama Korea, atau menjelajahi dunia maya untuk mencari tahu banyak hal mengenai Korea.” tambahnya  (kalimat efektif).
7.      Hal ini dapat dilihat dan dirasakan melalui warna musiknya, drama serial atau beberapa filmnya yang menggambarkan tentang seni, budaya dan kehidupan sehari-harinya yang menjadi ciri khas masyarakat Korea. (kalimat tidak efektif).
Dapat kita lihat dari warna musiknya, drama serial atau beberapa filmnya yang menggambarkan tentang seni, budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Korea. (kalimat efektif).

8.      Kerja keras mereka yang berhasil menjadi 'kiblat' baru dalam budaya pop itulah yang seharusnya menginspirasi masyarakat Indonesia untuk juga terus bekerja keras, disiplin, kreatif dan memiliki etos kerja yang tinggi.(kalimat tidak efektif).
Kerja keras mereka berhasil menjadi 'kiblat' baru dalam budaya pop itulah yang seharusnya menginspirasi masyarakat Indonesia untuk bekerja keras, disiplin, kreatif dan memiliki etos kerja yang tinggi. (kalimat efektif). 



Selasa, 22 Oktober 2013

Tiga Partai Teratas Capres 2014

Pemilihan Umum Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden akan dilaksanakan tahun depan. Tapi sudahkah anda tahu atau mengenal siapa saja yang akan maju sebagai calon kandidat pilpres 2014? Beberapa nama seperti Aburizal Bakrie, Megawati Soekarno Putri, Prabowo Subianto, Wiranto dan tidak ketinggalan Gubernur DKI Jakarta yang mendapat banyak dukungan dari masyarakat, Joko Widodo. Bahkan, penyanyi dangdut legendaris Rhoma Irama sampai pengacara kontroversial Farhat Abbas, ikut meramaikan hiruk-pikuk pilpres 2014. Mungkin salah satu di antara nama di atas adalah pilihan anda.
Menurut hasil riset terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebutkan, hanya bakal calon presiden yang bisa diajukan pada Pemilu Presiden 2014, yaitu tiga dari partai perolehan suara terbanyak.  
Kemudian Gerindra (6,6 %), PAN (5,2 %), PPP (4,6 %), PKB (4,6 %), PKS (4,4 %), Hanura (3,4 %), Nasdem (2,0 %), PBB (0,6 %), PKPI (0,3 %) dan yang belum menentuan (19,4 %). Survei LSI itu diadakan pada 12 September - 5 Oktober 2013, di 33 Provinsi dan menggunakan 1.200 responden. Dengan metode multistage random sampling, estimasi kesalahan penyamplingan sekitar 2,9 %. Survei itu juga menggunakan instrumen kuesioner dengan wawancara tatap muka (face to face interview).
Jika hasil pemilu seperti survei dan persyaratan capres adalah diajukan parpol dengan suara nasional 25 persen dan perleh kursi DPR 20 persen, maka hanya Golkar, PDIP dan Demokrat yang bisa mengajukan capres pada Pilpres 2014
Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyebut bahwa Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo alias Jokowi adalah sekadar calon presiden (capres) wacana. Politikus Gerindra Desmond J Mahesa setuju pimpinannya di Partai Gerindra itu disebut sebagai capres wacana di Pilpres 2014. 
Sedangkan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie yakin partainya akan menjadi pemenang di Pemilihan Umum 2014. Namun, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Malik Haramain meragukan hasil - hasil survei yang dipublikasikan belakangan ini. Pasalnya, Malik melihat hasil survei itu lebih banyak menyesatkan dan tak obyektif lagi.
Banyak yang menjadi corongnya kekuatan politik tertentu. Hasil survei cenderung tendensius dan menyesatkan serta tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik. Malik tak menyebutkan hasil survei yang dimaksud. Tapi secara garis besar, hasil-hasil survei yang sekarang ini ada semakin kontras dengan kenyataan di lapangan. Ia bahkan menuding survei dimanfaatkan untuk alat kampanye.
Tren lebih banyak membodohi masyarakat ketimbang memberi informasi yang sebenarnya. Oleh karena itu, Malik menilai perlunya badan independen yang diberi kewenangan untuk melakukan sertifikasi lembaga survei. Sertifikasi ini, sebut Malik, sangat penting karena sering kali survei mempengaruhi opini publik. Lembaga Survei Indonesia (LSI) mengingatkan partai politik untuk segera berbenah diri. Kalau tidak, kepercayaan pemilih terhadap partai akan terus menurun. LSI juga menyebutkan angka golput makin besar pada tahun 2014 nanti.
Sepertinya masyarakat sudah semakin cerdas dan berpikir maju. Memilih pemimpin yang benar – benar membela rakyat. Amanah bukan hanya mementingkan kekuasaan. Tapi bagaimana pun golput (tidak memilih) bukan cara yang tepat. Apalagi dengan banyaknya kasus yang belakangan ini terjadi. Korupsi, penyakit yang satu ini semakin merajalela di berbagai partai. Solusinya hanya satu, bagaimana cara mengembalikan kepercayaan masyarakat. Yaitu dengan membenahi diri dan partai masing-masing. Daya rusak korupsi sangat luas, bukan hanya kerugian negara secara finansial. Kemampuan negara berkurang untuk mesejahterakan rakyat miskin. Sementara kepemimpinan lemah di Republik adalah mimpi buruk kehidupan bernegara. Kini banyak pemimpin berwajah penguasa, politisi, birokrat, militer, agama, manajer, artis, atau orator. Rakyat merasa masih ada yang kurang dengan itu, yakni wajah pemimpin publik

Sumber :